jump to navigation

Bahasa Jepang 2009/03/03

Posted by cat in *bhs-Indonesia, History, Japanese Studies.
Tags: , ,
add a comment

Originally posted on blogger.com (I’ve decided to re-post some of them here, what I think as relevant).

Rangkuman catatan si kucing

“Hanya orang asing belajar bahasa Jepang (nihon-go). Orang Jepang belajar bahasa Nasional (kokugo)”,

tutur Profesor Kobayashi di seminar tentang Nishida Kitarô hari ini, dimana Profesor berbicara mengenai gaya bahasa Nishida dan latar belakangnya.

(Sepertinya tulisan Nishida (apabila itu mengenai filosofinya) mempunyai gaya yang tidak biasa, yang bukan tipikal Jepang maupun Eropa; Di dalam satu kalimat, Nishida menggunakan kata “kangaerareru” (bentuk pasif dari “berpikir”, yang berarti: dianggap atau terbayangkan. Inggris: conceivable) berulang-ulang.)

Masa disaat Nishida menuntut ilmu, adalah masa dimana sistem pendidikannya belum stabil. Jepang sibuk “mengimpor” ilmu pengetahuan dari Barat dan banyak istilah-istilah dalam dunia ilmu pengetahuan yang tidak bisa diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Jepang. Bermacam-macam ide kemudian muncul. Misalnya, dari Mori Arinori (1847-1889, Menteri Pendidikan di masa pemerintahan Itô Hirobumi dan Kuroda Kiyotaka) untuk meniadakan bahasa Jepang (yang dimaksud di sini: kanbun, Cina-Klasik, sebagai bahasa tulisan dan pelbagai dialek sebagai bahasa percakapan), dan sebagai gantinya, menggunakan bahasa Inggris. Kemudian ada pula gerakan genbun itchi atau “Penyatuan bahasa lisan dan tulisan.”

Kokugo, atau bahasa nasional/kebangsaan, lahir seiring dengan bertumbuhnya kesadaran nasional. Pada awalnya, tata bahasanya kacau balau, karena tiap kalangan menggunakan gaya bahasa atau sistem penulisan yang berbeda.
Ueda Kazutoshi dan muridnya, Hoshina Kôichi adalah ahli bahasa yang memulai pembakuan ortografi dan tata bahasa Jepang.
Bila saat ini para guru bahasa asing harus menentukan material mana yang akan digunakan untuk mengajar, Ueda, saat menjabat rektor di Universitas Kerajaan di Seoul (saat itu ada 9 Universitas Kerajaan, 2 di antaranya terletak di daerah koloni Jepang: Seoul dan Taipei), harus menentukan sistem yang hendak diajarkan. Karena itulah Ueda mulai mengembangkan tata bahasa yang menurutnya lebih mudah untuk dipelajari dan dipahami oleh banyak kalangan. Yang kemudian berkembang menjadi bahasa Jepang baku adalah dialek Tôkyô.

sekian catatan si kucing.
Jadi Sensei, tata bahasa Jepang itu, terlahir karena kebutuhan akan sistem bahasa yang homogen untuk diajarkan di daerah koloni? Hmm… kalau saja semudah itu jawabannya.