jump to navigation

Indonesia & I 2011/08/17

Posted by cat in *english, Reflection.
Tags: ,
add a comment

Today Indonesia commemorates its independence.
Except for the food, the weather and the landscapes, I cannot say I am proud of this country.
I sometimes don’t know where to start if I have to list things I don’t fancy about Indonesia. For sure I have grown to dislike the newspapers (including most of the journalists) and bureaucracy. I also can say many bad things about the education and health care systems. Not only once or twice I was let down. Sometimes good things happen, but they soon fade into background, because even more bad things happen. I believe that everything has something to do with greed. Some people, most politicians, just cannot let things go; the money and the position. Political scientists and good journalists know how to explain this better than I do. I think I am re-typing what has been discussed over and over again everywhere in the world.

Nevertheless, I cannot declare this country a lost cause. Because we, the people, grow and change, give birth to new generation, we feel, we love (there goes my romantic side), possess the desire to develop and improve ourselves, we gather information and study. It is difficult to let ourselves stay behind and being ignorant when the peoples and countries around us are developing, transforming. And I hope we also learn from the history — not only this country’s but other countries’, too.
So, being a skeptical optimistic/optimistic skeptical Indonesian, I am still waiting for the day I can confidently say, “I have faith” (borrowing ytiC retnuH, Lee Yoon Sung’s words in the last episode of the series);

“[…]The faith that the politicians the citizens have elected into office will govern with a conscience, the faith that the troops who were deployed to protect the country will be protected by the nation, the faith that universities will create capable people for our next generation, the faith that enterprise will grow along with the workers and their pains[…]”**

What can I do for you, Indonesia? How can I participate in your development without getting sucked into the rotten system? — These still need to be figured out.

 

**the words are originally in Korean. I’m using the English translation by the subbing team of withs2 (Written in the Heavens Subbing Squad).

cocktail teman 2009/05/18

Posted by cat in *bhs-Indonesia, Reflection.
Tags: , ,
2 comments

Teman-temanku dalam pikiranku. Potret mereka. Jejak mereka. Warna mereka. Bentuk mereka.
Semoga aku dimaafkan karena mengamati, menganalisa dan membahas mereka di blog-ku. ( ̄▽ ̄)ノ_彡 hahahaha.

Kelompok cermin: mereka memiliki banyak kesamaan denganku (peers-ku), baik dalam hal umur dan/atau latar belakang sosial, minat, -isme, selera humor dan sebagainya. Banyak topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Dengan mereka aku tak pernah merasa kesepian. Bahayanya: terbawa arus dan xenophobia.

Kelompok ahli: orang-orang yang saya kagumi karena memiliki talenta yang tidak aku miliki dan walaupun demikian tetap rendah hati dan bersahabat. Sangat lihai dalam menyemangati, senang berbagi tips, bisa menilai dengan obyektif dan mengutarakan pendapat mereka dengan terus terang. Bahayanya: inferiority complex.

Kelompok teka-teki: biasanya mereka mencariku (mungkin sebulan sekali) dengan dalih ingin minta saran. Padahal mungkin hanya ingin ngobrol atau bergosip saja. Kadang-kadang hanya sekedar basa-basi. Menyapaku dengan panggilan “somse” setiap kali bertemu (menyindir atau (pura-pura) mengomel agar supaya diberi perhatian). Bersikap santai adalah keharusan untuk bisa tetap akur dengan mereka. Bahayanya: kedangkalan.

Kelompok penyanjung: suka mengekspresikan kekaguman mereka terhadapku. Memuji sikapku, gayaku, cara berpikirku, seleraku dan lain-lain. Tapi terlalu sering. Entah sarkastis atau memang murni kekaguman. Mendengar atau membaca kata-kata mereka bisa membuatku nyengir kuda atau mengangkat alis. Apabila aku tahu mereka tulus, aku bisa merasa bangga dengan diriku. Bahayanya: pride or prejudice *笑*.

Kelompok poros: merasa bahwa mereka adalah pusat alam semesta. Seakan-akan sikap dan keputusanku hanyalah akibat dari tindakan mereka. Cepat merasa bersalah apabila sesuatu menimpaku. Marah apabila aku memilih berkonsultasi kepada orang lain dan bukan kepada mereka. Memiliki peraturan “wajib lapor.” Mereka biasanya sangat perhatian. Sebaliknya ada saat dimana mereka sangat ingin diperhatikan dan dihibur tanpa ditanyai tentang masalah mereka. Bahayanya: terkekang dan jadi negatif.

Kelompok vitamin: adalah orang-orang yang memiliki karakter-karakter dari kelompok-kelompok sebelumnya, dengan sifat dominan seperti kelompok ahli dan hampir tidak ada sifat kelompok poros. Biasanya merekalah yang kusebut my circle, tahu rahasia-rahasiaku dan sangat menghargai privacy-ku namun bersedia memberikan saran kapanpun kuminta; sebagai teman atau sebagai ahli di bidangnya. Di mata teman-temanku dari kelompok lain, orang-orang ini tidak menonjol. Bahayanya: cliquism.

Kelompok sinar: terdiri dari dua atau tiga orang saja yang juga termasuk pada kelompok vitamin. Mereka dapat menembus melewati (keras) kepalaku, diamku (baca: mendongkol), kepura-puraan atau poker-face-ku. Masquerading adalah keahlian mereka. Di hadapan mereka aku hanya bisa tampil apa adanya (karena berpura-pura itu percuma) dan karena itulah aku mampu menerima dan mengakui kelemahanku. Minat, kegemaran dan pemahaman tentang dunia yang kumiliki biasanya karena pengaruh mereka. Bahayanya: idolisation dan merah muka.

Kelompok ekstrim: mengeluh terlalu banyak; bercanda kelewatan; membahas terlalu bertele-tele; menyikapi segala sesuatu dengan serius; merayu dan menjilat non-stop, fanatisme dan kelewatan serta kelebihan lainnya. Semuanya over proportioned. Senantiasa mengingatkanku untuk menjaga keseimbangan. Tanpa mereka sadari mereka memancingku untuk menjahili mereka dengan cara menjadi kontras mereka. Bahaya: lethargy yang mengakibatkan aku invisible mode di Instant Messaging Clients dan/atau tidak menjawab telefon.

Kelompok balada: datang, curhat, pergi, kembali, mengeluh lagi, menolak dinasehati, pergi lagi. Intinya mereka hanya butuh seseorang untuk mendengar kisah mereka. Dengan mereka aku menjadi pendengar yang baik. Bahaya: jadi pasif atau ketiduran.

Kelompok yah-ampun: minta pendapat dan kemudian menolak pendapat yang diberi. Biasanya mereka sedang bermasalah dan hanya ingin seseorang mengatakan bahwa langkah yang mereka ambil sudah benar. Minta saran hanyalah dalih untuk memulai pembicaraan. Leherku jadi tidak terlalu kaku karena mereka – mengingat percakapan dengan mereka membuatku geleng-geleng kepala (aingkingkingking…). Bahaya: pusing dan/atau gondok.

Tentu saja seseorang bisa tergabung dalam dua kelompok atau lebih (atau ganti kata “kelompok” dengan istilah blogging: “tag” – sebuah entry bisa memiliki beberapa tags), dan kadang-kadang seseorang meninggalkan kelompok yang satu dan menjadi anggota kelompok yang lain. Entah itu pengaruh lingkungan, masalah yang sedang dihadapi/ tahap kehidupan yang sementara dilalui, atau ada pencerahan hahahahahahaha. Mereka semua aku anggap teman, walaupun derajat keakrabannya memang berbeda, dan dengan demikian aksesnya juga berbeda. Tidak adil? Mungkin. Karena aku sendiri sangat mengutamakan privacy dan kehati-hatian. Walaupun demikian, semua kelompok ini berpengaruh dalam membentuk karakterku (negatif dan positif) yang sekarang ini. Dan kepada seorang teman yang senantiasa mengeluh mengapa bukan dirimu tempat aku curhat, well… mungkin karena kamu sering menanyakan hal itu? ^^;

Hmmm… teman yang bagaimanakah diriku ini bagi teman-temanku? (._. )a

My brain melts after a long hour of trying my best to write the most of this entry in correct Indonesian language. _| ̄|o
Need to practice more p(*^-^*)q

—————-
Now playing: Itsuwa Mayumi – Kokoro no tomo
via FoxyTunes