jump to navigation

cocktail teman 2009/05/18

Posted by cat in *bhs-Indonesia, Reflection.
Tags: , ,
2 comments

Teman-temanku dalam pikiranku. Potret mereka. Jejak mereka. Warna mereka. Bentuk mereka.
Semoga aku dimaafkan karena mengamati, menganalisa dan membahas mereka di blog-ku. ( ̄▽ ̄)ノ_彡 hahahaha.

Kelompok cermin: mereka memiliki banyak kesamaan denganku (peers-ku), baik dalam hal umur dan/atau latar belakang sosial, minat, -isme, selera humor dan sebagainya. Banyak topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Dengan mereka aku tak pernah merasa kesepian. Bahayanya: terbawa arus dan xenophobia.

Kelompok ahli: orang-orang yang saya kagumi karena memiliki talenta yang tidak aku miliki dan walaupun demikian tetap rendah hati dan bersahabat. Sangat lihai dalam menyemangati, senang berbagi tips, bisa menilai dengan obyektif dan mengutarakan pendapat mereka dengan terus terang. Bahayanya: inferiority complex.

Kelompok teka-teki: biasanya mereka mencariku (mungkin sebulan sekali) dengan dalih ingin minta saran. Padahal mungkin hanya ingin ngobrol atau bergosip saja. Kadang-kadang hanya sekedar basa-basi. Menyapaku dengan panggilan “somse” setiap kali bertemu (menyindir atau (pura-pura) mengomel agar supaya diberi perhatian). Bersikap santai adalah keharusan untuk bisa tetap akur dengan mereka. Bahayanya: kedangkalan.

Kelompok penyanjung: suka mengekspresikan kekaguman mereka terhadapku. Memuji sikapku, gayaku, cara berpikirku, seleraku dan lain-lain. Tapi terlalu sering. Entah sarkastis atau memang murni kekaguman. Mendengar atau membaca kata-kata mereka bisa membuatku nyengir kuda atau mengangkat alis. Apabila aku tahu mereka tulus, aku bisa merasa bangga dengan diriku. Bahayanya: pride or prejudice *笑*.

Kelompok poros: merasa bahwa mereka adalah pusat alam semesta. Seakan-akan sikap dan keputusanku hanyalah akibat dari tindakan mereka. Cepat merasa bersalah apabila sesuatu menimpaku. Marah apabila aku memilih berkonsultasi kepada orang lain dan bukan kepada mereka. Memiliki peraturan “wajib lapor.” Mereka biasanya sangat perhatian. Sebaliknya ada saat dimana mereka sangat ingin diperhatikan dan dihibur tanpa ditanyai tentang masalah mereka. Bahayanya: terkekang dan jadi negatif.

Kelompok vitamin: adalah orang-orang yang memiliki karakter-karakter dari kelompok-kelompok sebelumnya, dengan sifat dominan seperti kelompok ahli dan hampir tidak ada sifat kelompok poros. Biasanya merekalah yang kusebut my circle, tahu rahasia-rahasiaku dan sangat menghargai privacy-ku namun bersedia memberikan saran kapanpun kuminta; sebagai teman atau sebagai ahli di bidangnya. Di mata teman-temanku dari kelompok lain, orang-orang ini tidak menonjol. Bahayanya: cliquism.

Kelompok sinar: terdiri dari dua atau tiga orang saja yang juga termasuk pada kelompok vitamin. Mereka dapat menembus melewati (keras) kepalaku, diamku (baca: mendongkol), kepura-puraan atau poker-face-ku. Masquerading adalah keahlian mereka. Di hadapan mereka aku hanya bisa tampil apa adanya (karena berpura-pura itu percuma) dan karena itulah aku mampu menerima dan mengakui kelemahanku. Minat, kegemaran dan pemahaman tentang dunia yang kumiliki biasanya karena pengaruh mereka. Bahayanya: idolisation dan merah muka.

Kelompok ekstrim: mengeluh terlalu banyak; bercanda kelewatan; membahas terlalu bertele-tele; menyikapi segala sesuatu dengan serius; merayu dan menjilat non-stop, fanatisme dan kelewatan serta kelebihan lainnya. Semuanya over proportioned. Senantiasa mengingatkanku untuk menjaga keseimbangan. Tanpa mereka sadari mereka memancingku untuk menjahili mereka dengan cara menjadi kontras mereka. Bahaya: lethargy yang mengakibatkan aku invisible mode di Instant Messaging Clients dan/atau tidak menjawab telefon.

Kelompok balada: datang, curhat, pergi, kembali, mengeluh lagi, menolak dinasehati, pergi lagi. Intinya mereka hanya butuh seseorang untuk mendengar kisah mereka. Dengan mereka aku menjadi pendengar yang baik. Bahaya: jadi pasif atau ketiduran.

Kelompok yah-ampun: minta pendapat dan kemudian menolak pendapat yang diberi. Biasanya mereka sedang bermasalah dan hanya ingin seseorang mengatakan bahwa langkah yang mereka ambil sudah benar. Minta saran hanyalah dalih untuk memulai pembicaraan. Leherku jadi tidak terlalu kaku karena mereka – mengingat percakapan dengan mereka membuatku geleng-geleng kepala (aingkingkingking…). Bahaya: pusing dan/atau gondok.

Tentu saja seseorang bisa tergabung dalam dua kelompok atau lebih (atau ganti kata “kelompok” dengan istilah blogging: “tag” – sebuah entry bisa memiliki beberapa tags), dan kadang-kadang seseorang meninggalkan kelompok yang satu dan menjadi anggota kelompok yang lain. Entah itu pengaruh lingkungan, masalah yang sedang dihadapi/ tahap kehidupan yang sementara dilalui, atau ada pencerahan hahahahahahaha. Mereka semua aku anggap teman, walaupun derajat keakrabannya memang berbeda, dan dengan demikian aksesnya juga berbeda. Tidak adil? Mungkin. Karena aku sendiri sangat mengutamakan privacy dan kehati-hatian. Walaupun demikian, semua kelompok ini berpengaruh dalam membentuk karakterku (negatif dan positif) yang sekarang ini. Dan kepada seorang teman yang senantiasa mengeluh mengapa bukan dirimu tempat aku curhat, well… mungkin karena kamu sering menanyakan hal itu? ^^;

Hmmm… teman yang bagaimanakah diriku ini bagi teman-temanku? (._. )a

My brain melts after a long hour of trying my best to write the most of this entry in correct Indonesian language. _| ̄|o
Need to practice more p(*^-^*)q

—————-
Now playing: Itsuwa Mayumi – Kokoro no tomo
via FoxyTunes

lagu si wajah imut 2009/03/03

Posted by cat in *bhs-Indonesia, Language, Lyrics, Translation.
Tags: , , ,
add a comment

another old post.


Setelah mengetik beberapa kalimat yang seharusnya menjadi pembuka post ini, saya membaca ulang kalimat pertama, dan merasa janggal dengan kata “menterjemahkan.”

Mana yang benar: menterjemahkan atau menerjemahkan atau kedua-duanya? Saya coba dengan menggoogle (maaf, ini lebih praktis daripada “menelusuri lewat google” – terjemahan langsung dari googling (Bhs. Inggris) dan googlen (Bhs. Jerman)), dan menemukan 199.000 hasil penelusuran untuk “menterjemahkan” dan 205.000 untuk “menerjemahkan.”

Tantangan saya dalam belajar lagi Bahasa Indonesia kali ini adalah menterjemahkan lirik lagu. Semua kalimat saya baca berulang-ulang, dan tetap saja terdengar “asing.”
Tidak ada alasan khusus mengapa saya memilih lagu ini. Hanya penasaran dengan liriknya, dan kemudian saya cari di internet. Saat saya coba menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, saya mengalami beberapa kesulitan.

Terjemahan ini adalah terjemahan setengah-bebas setengah-harafiah ^_^
Bagi teman-teman yang punya waktu luang dan ingin mengoreksi, dipersilahkan (yang di Philipp-Rosenthal-Str. boleh *laughs*)

(more…)

Bahasa Jepang 2009/03/03

Posted by cat in *bhs-Indonesia, History, Japanese Studies.
Tags: , ,
add a comment

Originally posted on blogger.com (I’ve decided to re-post some of them here, what I think as relevant).

Rangkuman catatan si kucing

“Hanya orang asing belajar bahasa Jepang (nihon-go). Orang Jepang belajar bahasa Nasional (kokugo)”,

tutur Profesor Kobayashi di seminar tentang Nishida Kitarô hari ini, dimana Profesor berbicara mengenai gaya bahasa Nishida dan latar belakangnya.

(Sepertinya tulisan Nishida (apabila itu mengenai filosofinya) mempunyai gaya yang tidak biasa, yang bukan tipikal Jepang maupun Eropa; Di dalam satu kalimat, Nishida menggunakan kata “kangaerareru” (bentuk pasif dari “berpikir”, yang berarti: dianggap atau terbayangkan. Inggris: conceivable) berulang-ulang.)

Masa disaat Nishida menuntut ilmu, adalah masa dimana sistem pendidikannya belum stabil. Jepang sibuk “mengimpor” ilmu pengetahuan dari Barat dan banyak istilah-istilah dalam dunia ilmu pengetahuan yang tidak bisa diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Jepang. Bermacam-macam ide kemudian muncul. Misalnya, dari Mori Arinori (1847-1889, Menteri Pendidikan di masa pemerintahan Itô Hirobumi dan Kuroda Kiyotaka) untuk meniadakan bahasa Jepang (yang dimaksud di sini: kanbun, Cina-Klasik, sebagai bahasa tulisan dan pelbagai dialek sebagai bahasa percakapan), dan sebagai gantinya, menggunakan bahasa Inggris. Kemudian ada pula gerakan genbun itchi atau “Penyatuan bahasa lisan dan tulisan.”

Kokugo, atau bahasa nasional/kebangsaan, lahir seiring dengan bertumbuhnya kesadaran nasional. Pada awalnya, tata bahasanya kacau balau, karena tiap kalangan menggunakan gaya bahasa atau sistem penulisan yang berbeda.
Ueda Kazutoshi dan muridnya, Hoshina Kôichi adalah ahli bahasa yang memulai pembakuan ortografi dan tata bahasa Jepang.
Bila saat ini para guru bahasa asing harus menentukan material mana yang akan digunakan untuk mengajar, Ueda, saat menjabat rektor di Universitas Kerajaan di Seoul (saat itu ada 9 Universitas Kerajaan, 2 di antaranya terletak di daerah koloni Jepang: Seoul dan Taipei), harus menentukan sistem yang hendak diajarkan. Karena itulah Ueda mulai mengembangkan tata bahasa yang menurutnya lebih mudah untuk dipelajari dan dipahami oleh banyak kalangan. Yang kemudian berkembang menjadi bahasa Jepang baku adalah dialek Tôkyô.

sekian catatan si kucing.
Jadi Sensei, tata bahasa Jepang itu, terlahir karena kebutuhan akan sistem bahasa yang homogen untuk diajarkan di daerah koloni? Hmm… kalau saja semudah itu jawabannya.